Project Description

Dokumentasi Video

Diskripsi

Mesabat-sabatan biu adalah adat istiadat turun temurun yang dilaksanakan di Desa Tenganan Dauh Tukad, Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Desa Tenganan Dauh Tukad termasuk salah satu desa tua di Bali. Desa ini terletak di   Perbekelan Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem (Bali), sekitar 80 Km ke timur dari Kota Denpasar.  Secara tradisi, desa Tenganan Dauh Tukad merupakan bagian dari desa tua Tenganan Pagringsingan, desa tua yang terkenal dengan tradisinya yang kuat. Desa Tenganan sudah disebut dalam sebuah prasasti dari abad ke-12 (Goris, Prasasti Bali I, 1954). Sementara itu, Tenganan Dauh Tukad baru dikenal sebagai desa setelah adanya pengaruh kekuasaan Majapahit (Gelgel) masuk ke wilayah itu, pada abad ke17 (Babad Rusak De Dukuh di Dauhtukad). Pada masa itu (menurut Babad) terjadi penyerangan oleh pasukan Kerajaan Gelgel kepada I Dukuh Mengku, penguasa di Tenganan Dauh Tukad. Ia diserang karena tidak mau tunduk kepada kekuasaan Raja. Karena penduduk Dauh Tukad kalah dalam peperangan, maka banyak penduduk yang melarikan diri, tetapi sesudah itu, orang-orang lain ada yang datang ke sana. Demikian penduduk di Dauh Tukad menjadi bercampur.

Dilihat dari segi upacara keagamaan, masyarakat menganut banyak tradisi Bali Kuna, sedikit bercampur dengan pengaruh Hindu Majapahit. Dalam upacara kematian misalnya, masih menggunakan air suci (tirta) dari Pandita Dukuh, selain air suci dari Pedanda (Brahmana). Juga berbagai tradisi upacara banyak menganut tradisi dari sebelum adanya pengaruh Majapahit, termasuk tradisi/upacara sabatan biyu.

Kata Mesabat-sabatan biu terdiri dari kata “mesabatan” yang bermakna saling lempar dan “biu” berarti pisang sehingga dalam Bahasa Indonesia diartikan dengan Perang Pisang. Sejarah munculnya mesabat-sabatan biu ini belum diketahui secara pasti karena tidak ada bukti tertulis yang menyatakannya, namun melihat dari sejarah diatas mesabat-sabatan biu mendapat pengaruh Hindu Majapahit.

Adat istiadat ini dilaksanakan sebagai sebuah rangkaian pelaksanaan Usaba Katiga (upacara yang dilaksanakan pada bulan ketiga perhitungan kalender Tenganan Dauh Tukad). Adapun tahapan pelaksanaan adalah sebagai berikut : 1). Ngantung yakni membuat aneka jajanan berbentuk binatang yang digantung di Bale Agung. 2). Penampahan adalah proses memotong babi sampai pada mengolahnya untuk keperluan sesajen. 3). Ngelawang yakni para pemuda desa berkeliling desa dengan membawa sok bodag sebagai tempat menaruh sumbangan dari warga desa. Setelah itu dilanjutkan dengan proses. 4). Ngalang yakni memetik buah pisang dan kelapa oleh para pemuda desa yang nantinya akan dipergunakan sebagai sarana pada tradisi mesabat-sabatan biu tersebut. 5). Mesabat-sabatan biu merupakan akhir dari rangkaian yang dilaksanakan dari depan Pura Dalem Majapahit menuju Pura Bale Agung yang dibagi menjadi dua kelompok pemuda desa yakni kelompok I terdiri dari pemuda desa sejumlah 16 orang atau lebih yang akan melempar pisang, sedangkan kelompok II adalah dua orang pemuda desa yang berperan sebagai saye dan penampih saye dimana kedua pemuda ini harus bisa melewati kumpulan pemuda lainnya yang akan melempari mereka dengan buah pisang sampai tiba di batas Pura Bale Agung. Pada saat pelaksanaannya pihak pemuda desa melempar pisang sambil memikul kelapa dalam jumlah banyak. Mereka harus berlari mengejar dan melempari saye dan penampih saye sambil tetap memikul bawaannya dan tidak boleh jatuh, karena apabila jatuh maka akan dikenakan sangsi. Demikian pula halnya dengan saye dan penampih saye mereka juga harus terus berlari dengan memikul bawaan berupa sok bodag hasil dari ngelawang kemarin dan juga tidak boleh jatuh. Pelaksanaan Mesabat-sabatan biu ini akan selesai apabila saye dan penampih saye telah mencapai pintu gerbang Pura Bale Agung.

Bagi Masyarakat Desa Tenganan Dauh Tukad, tradisi ini memiliki makna dan fungsi yang sangat penting karena disatu sisi tradisi yang bersifat turun temurun ini penting untuk tetap dilestarikan serta diwariskan dari generasi ke generasi utamanya generasi sekarang atau pemuda desa sebagai penerus generasi supaya tradisi ini tidak punah. Tradisi Mesabatan-sabatan biu ini memiliki fungsi kompleks dalam kehidupan masyarakat baik fungsi agama maupun fungsi sosial. Sebagai sebuah rangkaian upacara tentunya tradisi ini memiliki fungsi upacara yakni melengkapi upacara yang tidak boleh dihilangkan dari pelaksanaannya. Sedangkan fungsi sosial yakni :

  1. Menjaga kebersamaan, persaudaraan, keakraban dan saling tolong menolong antar pemuda desa karena dalam pelaksanaan upacara maupun tradisi ini pemuda desa memiliki peran yang sangat penting.
  2. Tradisi ini juga mengajarkan bahwa pemuda yang harus bisa mengendalikan emosi jangan ada rasa dendam maupun permusuhan setelah pelaksanaan perang tersebut.

Melihat dari bentuk pelaksanaannya tersirat juga bahwasannya pemuda sebagai tulang punggung desa harus senantiasa kuat mental maupun fisik karena nantinya merekalah yang akan mengemban tugas sebagai calon-calon pemimpin desa. Selain itu sebagai seorang laki-laki mereka harus bisa menjalankan kewajiban nantinya sebagai seorang suami maupun krama desa adat.

Dokumentasi Foto