Project Description

Dokumentasi Video

Usaba Sumbu merupakan salah satu ritual adat agama yang ada di Kabupaten Karangasem yang tersebar di beberapa Desa Pakraman, salah satunya adalah di Desa Timbrah, Desa  Pertima, Kecamatan Karangasem. Usaba Sumbu di desa ini terbilang unik dengan Tradisi Guling Siyu yang menjadi sebuah tradisi leluhur yang diwariskan secara turun temurun. Usaba Sumbu dengan Tradisi Guling Siyu ini berasal dari kata Usaba artinya upacara, Guling artinya babi yang dipotong secara utuh, kemudian perutnya diisi bumbu tradisional dan dijarit kembali kemudian dibakar diatas bara api dengan cara diputar-putar, sedangkan Siyu berarti seribu sehingga Tradisi Guling Siyu adalah persembahan suci kehadapan Ida Sang Hyang Widhi berupa sesajen dan guling dalam jumlah ribuan oleh masyarakat Desa Timbrah. Persembahan ini merupakan sebuah ungkapan rasa syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) yang telah memberkahi hasil bumi yang melimpah dan menyelamatkan lahan pertanian terutama padi dapat tumbuh dengan subur. Sehingga Usaba Sumbu dengan persembahan Guling Siyu ini merupakan wujud terima kasih warga atas limpahan karunia-Nya berupa hasil bumi dan ternak yang dapat mensejahterakan masyarakatnya. Selain sarana berupa ribuan ekor guling keunikan dalam Usaba Sumbu adalah sarana upacara berupa Sumbu yakni simbol Buana Agung (makrokosmos) dan Buana Alit (mikrokosmos). Sumbu ini dibuat oleh krama/warga Pauman yang memiliki deha (anak gadis) secara bergilir setiap tahunnya. Dalam sekali Usaba Sumbu dibuat sebanyak 5 Sumbu yang dihaturkan 3 buah di Pura Panti Kaler dan 2 buah di Pura Bale Agung. Deha yang akan membuat sumbu dipilih yang tidak cacat dan masih memiliki orangtua lengkap. Sumbu ini dibuat mencapai tinggi 25 m yang dihiasi dengan berbagai hiasan seperti rerenteng, bungan lengkuas, reringgitan naga sari, wayang, kapal-kapalan, kedis-kedisan, jajan, sesapi nagasari, dsb. Jika dilihat dari bermacam-macam hasil bumi yang menghiasi bangunan sumbu tersebut juga memiliki makna sebagai sebuah rasa hormat, rasa terima kasih kepada Sang Pencipta.

Usaba Sumbu terdiri dari rangkaian kegiatan sebagai berikut : diawali dengan Nuur Prawayah (pengatur upacara secara adat), dilanjutkan dengan ngoreng bahan sumbu (membuat jajanan sebagai pelengkap sesajen), melasti dan mulang pekelem (melaksanakan pensucian pratima Ida Bhatara ke pantai Pasir Putih), kemudian Nyujukang Sumbu/Bangun Sumbu (mendirikan Sumbu pada hari H pelaksanaan yakni di Pura Panti Kaler berselang dua hari kemudian di Pura Bale Agung serta pada sore harinya warga mulai berbondong-bondong membawa sesajen berupa babi guling dengan rangkaiannya seperti pengapit guling dan pemuja ke Pura). Sebelum berlanjut pada Usaba Sumbu Kelod yakni 2 hari setelah Usaba Sumbu Kaja dilaksanakan beberapa ritual upacara lagi seperti mebiasa yakni Jempana (simbol Bhatara) diiringi oleh prabagus, pragaluh, bapa desa, kubayan, prawah dan krama desa mengelilingi desa sebanyak 3 kali. Setelah itu dilanjutkan dengan tradisi mebarang yakni memperebutkan Jempana oleh teruna adat dan krama dengan melintasi Bale Panjang mereka meambuh-ambuhan (saling tarik menarik) yang merupakan sebuah bentuk penghormatan warga kepada pencipta-Nya dan juga sebagai sebuah bentuk pelestarian budaya. Rangkaian terakhir dari Usaba ini adalah nyimpen setelah pelaksanaan berlangsung di Pura Bale Agung. Dalam perayaan Usaba Sumbu ini juga ditarikan Tari Rejang Timbrah oleh para Deha (gadis) semalam suntuk sampai dini hari.

Pelaksanaan Usaba Sumbu dengan Tradisi Guling Siyu memiliki fungsi kompleks dalam masyarakat yang memiliki nilai budaya, nilai persaudaraan dan nilai ekonomi. Nilai budaya yakni tradisi ini masih tetap bertahan sebagai sebuah identitas budaya dari masyarakat Desa Pakraman Timbrah yang tercermin dari kehidupan mereka sehari-hari. Nilai persaudaraan tercermin dari adanya saling berbagi (ngejot) kepada sesama yang belum bisa  mempersembahkan guling karena alasan tertentu ataupun bagi mereka yang kurang mampu. Nilai ekonomi yang dapat diambil dari tradisi ini yakni ekonomi masyarakat meningkat karena adanya permintaan akan babi maupun ayam dan ternak lainnya sehingga masyarakat membuka usaha ternak ataupun beternak untuk persiapan dipergunakan sendiri. Hal tersebut secara tidak langsung akan meningkatkan perekonomian warga setempat.

Dokumentasi Foto