Museum Sanghyang Dedari Giri Amertha berlokasi di Desa Adat Geriana Kauh, Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem adalah museum yang dibangun dalam upaya menjaga kelestarian tarian Sanghyang yang hampir mengalami kepunahan utamanya di desa setempat. Museum ini mulai dibangun pada tahun 2016 atas inisiatif salah seorang dosen UI Dr. Saraswati Dewi yang pernah melakukan penelitian terkait Tari Sanghyang di Desa Adat Geriana Kauh. Pembangunan juga dibantu oleh Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) berkolaborasi dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UI yang bekerjasama dengan masyarakat Desa Adat Geriana Kauh. Antusiasme masyarakat sangat besar atas pembangunan Museum ini dalam upaya menjaga Tari Sanghyang khususnya Sanghyang Dedari agar tetap eksisĀ  karena peran penting fungsi tarian dalam upacara di desa setempat.

Museum ini nantinya akan menjadi sebuah dokumentasi dari perwujudan Tari Sanghyang baik berupa photo, video, tulisan, lontar-lontar, serta peralatan perlengkapan Sanghyang mulai dari pakaian, nyanyian (gending Sanghyang). Dengan demikian setiap orang yang ingin mengetahui Tarian Sanghyang bisa melihat dan mengamati di museum ini mengingat Sanghyang termasuk ke dalam Tari Sakral yang hanya ditampilkan sewaktu-waktu berkaitan dengan pelaksanaan upacara agama.

Museum ini diresmikan oleh Bupati Karangasem dan perwakilan UI dan tokoh masyarakat Desa Adat Geriana Kauh serta didampingi oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem dan OPD lainnya pada hari Selasa, 12 November 2019. Bupati Karangasem dalam sambutannya menyampaikan melalui museum ini yang menyimpan dan memajang photo, tulisan maupun tayangan visual Tari Sanghyang bukan saja Sanghyang Dedari namun semua jenis Tari sanghyang di Kabupaten Karangasem.