Project Description

Situs Tinggalan Arkeologi

situs cagar budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, dan/atau struktur cagar budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu

Nama Pura Kayu Sakti Basangalas
Nomor inventaris  1/STS/PKS/ABG/2015
Lokasi Desa Adat Basangalas, Desa Tribuana, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali
Koordinat 50 L 03448522; UTM 9071324, Dpl. 302 meter
Ukuran 21 x 17 meter
Batas Langsung Utara hutan dan jalan; Timur jalan menuju Pura Lempuyang Madya;  Selatan tegalan dan Pura Puseh; Barat jalan ke wilayah pemukiman.
Pemilik Klen Warga Pasek Desa Adat Basangalas
Pengelola Desa Adat Basangalas
Pemerian :
Struktur halaman pura terdiri dari satu halaman (eka mandala) pembatas mandala dibatasi tembok keliling batu, tembok keliling membentuk persegi empat. Pintu masuk dari dua arah, selatan dan barat. Pada mandala utama berserakan batu-batu alam dahulunya sebelum memakai tembok  batu-batu ini berfungsi sebagai pembatas antara halaman utama dengan halaman luar. Bangunan utama, empat buah tahta batu dari batu serpih dan sebuah bangunanfasilitas penunjang, antara lain (1)  tahta batu yang berfungsi sebagai media pemujaan leluhur warga pasek gelgel dengan manifestasi Anglurah Sakti, (2) tahta batu sebagai media pemujaan Panca Dewata, (3) tahta batu  sebagai media pemujaan Bhatara bagus Subandar, (4) tahta batu  sebagai media pemujaan Hyang Jaya Sakti, (5) batu dakon berlubang satu, dan (6) sebuah bangunan Pesamuan sebagai fasilitas penunjang di dalam upacara.  Pura Kayu Sakti termasuk ke dalam golongan pura geneologis bagi warga Pasek Gelgel yang bermukim di Desa Adat Basang Alas.  Menurut Laksmi (1995, 23) tahta batu di Pura Kayu Sakti, terdapat di bawah pohon beringin. Tahta batu yang terdiri atas lima ruang ini oleh penduduk setempat disebut Pelinggih Kayu Sakti. Palinggih ini merupakan penghayatan Bhatara Lempuyang karena terletak di bawah sebelah selatan dari Gunung Lempuyang. Pelinggih tahta batu ini merupakan medium penghormatan terhadap para dewa dan leluhur yang berstana di Gunung Lempuyang untuk memohon kesejahteraan dan keselamatan bagi masyarakat desa Basangalas.

Benda Tinggalan Arkeologi

Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia

Nama Batu Berlubang
Nomor inventaris  1/BND/BB/ABG/2015
Ukuran panjang 46 cm;  lebar 39 cm
Bahan Batu Alam
Warna Abu-abu
Perolehan Pura Kayu Sakti Basangalas
Periodesasi tradisi megalitik
Kondisi kurang terawat
Pemerian

Batu berlubang ini berbentuk monolit dengan satu lubang cekungan seperti batu dakon, dengan posisi tertanam di dalam tanah, kelihatan pada bagian bidang datar permukaannya saja. Cekungan (lubang) dengan diameter 12 cm dengan kedalaman 5 cm. dalam konteks keagamaan, batu berlubang ini diperkirakan berfungsi sebagai tempat membuat sarana upacara.

Struktur Tinggalan Arkeologi

Struktur cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia.

Nama Tahta Batu
Nomor inventaris  1/STRK/TB/ABG/2015
Ukuran tinggi 100 m; panjang 67 cm;  lebar 70 cm.
Bahan Batu Alam
Warna Abu-abu
Perolehan Pura Kayu Sakti
Periodesasi tradisi megalitik, berlanjut sampai masa Hindu Bali
Kondisi utuh ditumbuhi organisme
Pemerian

Tahta batu ini dengan arah hadap timur, dengan struktur fisik terdiri dari bagian kaki dan puncak. Bagian kaki dan badan disusun dengan susunan batu berbentuk persegi empat,   dan bagian puncak  dibentuk ruang berdinding pada samping kiri dan kanan serta bagian belakang. Dalam kaitannya dengan aktivitas keagamaan struktur bangunan ini berfungsi sebagai Pelinggih Anglurah Sakti.

Nama Tahta Batu
Nomor inventaris  2/STRK/TB/ABG/2015
Ukuran tinggi  1,22 m; panjang 3,78 m;  lebar 1,5 m
Bahan Batu Alam
Warna Abu-abu
Perolehan Pura Kayu Sakti
Periodesasi tradisi megalitik, berlanjut sampai masa Hindu Bali
Kondisi utuh ditumbuhi organisme
Pemerian

Tahta batu ini dibangun di atas bebaturan berbentuk persegi empat panjang dengan arah hadap selatan. Struktur bangunan terbagi menjadi yakni bagian batur dan bagian puncak. Bagian puncak terbagi menjadi lima ruang, masing-masing ruang dibatasi dengan dinding batu pipih (batu serpih) sebagai sekat antar ruang. Dalam kaitannya dengan aktivitas keagamaan struktur bangunan ini berfungsi sebagai Pelinggih Panca Dewata.

Nama Tahta Batu
Nomor inventaris  3/STRK/TB/ABG/2015
Ukuran tinggi 1,07 m; panjang 1,26 m;  lebar  1,22 m
Bahan Batu Alam
Warna Abu-abu
Perolehan Pura Kayu Sakti
Periodesasi tradisi megalitik, berlanjut sampai masa Hindu Bali
Kondisi utuh dan terawat
Pemerian

Tahta batu ini dengan arah hadap barat , dengan struktur fisik terdiri dari bagian kaki dan puncak. Bagian kaki dan badan disusun dengan susunan batu berbentuk persegi empat,   dan bagian puncak  dibentuk ruang berdinding pada samping kiri dan kanan serta bagian belakang. Dalam konteks aktivitas keagamaan struktur bangunan ini berfungsi sebagai Pelinggih Hyang Jaya Sakti.

Nama Tahta Batu
Nomor inventaris  4/STRK/TB/ABG/2015
Ukuran tinggi  1,3 m; panjang 120 cm; lebar 120 cm
Bahan Batu Alam
Warna Abu-abu
Perolehan Pura Kayu Sakti
Periodesasi tradisi megalitik, berlanjut sampai masa Hindu Bali
Kondisi utuh dan terawat
Pemerian

Tahta batu ini dengan arah hadap selatan , dengan struktur fisik terdiri dari bagian kaki dan puncak. Bagian kaki dan badan disusun dengan susunan batu berbentuk persegi empat,   dan bagian puncak  dibentuk ruang berdinding pada samping kiri dan kanan serta bagian belakang. Dalam konteks aktivitas keagamaan struktur bangunan ini berfungsi sebagai Pelinggih Bhatara Bagus Subandar.

Bangunan Tinggalan Arkeologi

Bangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap.

Tidak memiliki bangunan

Tinggalan Arkeolog Lainnya