Project Description

Dokumentasi Video

Diskripsi

Bangle merupakan banjar adat bagaian dari desa pakraman atau desa adat sega, selain itu secara kedinasan banjar adat bangle masuk ke wilayah perbekelan bunutan kecamatan abang kabupaten karangasem. Lokasi terpencil dengan medan perbukitan membuat masyarakat banjar adat bangle mampu menciptakan gamelan yang berbeda pada umumnya yakni berupa gamelan dengan resonansi batok kelapa atau yang dikenal dengan terompong beruk  atau gong beruk.

Berdasarkan cerita masyarakat yang disampaikan secara turun-temurun, keberadaan terompong beruk bermula dari keberadaan masyarakat Bangle, yang merupakan penduduk banjar adat sega yang memberanikan diri berpenghuni diluar wilayah banjar adat sega. Oleh karenanya, dilaksanakanlah pesangkepan desa yang memutuskan memberikan penduduk untuk berpenghuni diwilayah banjar adat bangle sekarang, dengan istilah dalam pesangkapan “baang ye ngele” yang berarti mempersilahkan untuk tinggal di tempat yang berbeda, namun tetap patuh dalam sistem adat desa sega.

Sebagai wujud taat dalam sistem adat desa sega, masyarakat banjar adat bangle memiliki kewajiban melaksanakan upacara di pura pemaksan bangle tempat berstana Ida Bhatara Bagus yang merupakan putra dari Ida Bhatara Lingsir yang berstana di Pura Puseh Desa Sega. Untuk menunjang proses upacara tersebut, masyarakat bangle membuat gamelan pengiring tari sakral dalam upacara tersebut berupa terompong beruk.

Terompong beruk pada awalnya merupakan alat musik dari paduan kayu likukun sebagai bilahnya dan resonatornya menggunakan batok kelapa atau dikenal dengan istilah “beruk”. Kemudian disempurnakan dengan hanya mengganti bilah kayu likukun dengan menggunakan besi dengan harapan suara menjadi lebih merdu serta menambah beberapa perangkat gamelan, sehingga menjadi 1 set gamelan terompong beruk yang terdiri atas;

  • Terompong, yakni perangkat yang terdiri atas 1 (satu) tungguh memiliki 10 bilah nada. Berfungsi membawakan melodi dan memulai sebuah lagu atau gending. Selain itu terompong dapat mengendalikan keras lembutnya lagu/gending yang dimainkan.
  • Jublag, yakni perangkat yang terdiri atas 2 (dua) tungguh. Masing-masing tungguh jublag memiliki 5 bilah nada berfungsi memperkuat/menegaskan melodi pada ruas-ruas lagu/gending.
  • Reyong, Reyong terompong beruk, berbeda dengan reong gong kebyar pada umumnya. Reyong terompong beruk terdiri atas 8 tungguh dengan masing-masing tungguh memiliki 1 bilah nada. Reyong memiliki fungsi perkusi pada melodi dan nonmelodi
  • Petuk, yakni perangkat yang terdiri atas 1 tungguh memiliki bilah nada 1 yang berfungsi sebagai pembawa irama. Jenis pukulan pada petuk antara waktu dan jarak bersifat tetap sampai lagu/gending selesai dimainkan.
  • Kempul, perangkat yang terdiri atas 1 tungguh memiliki 2 bilah nada berfungsi sebagai pematok ruas-ruas lagu atau gending.
  • Gong, berbeda pula dengan perangkat gong kebyar pada umumnya dengan ukuran yang besar dan digantung, gong pada terompong beruk tetap bertungguh dan memiliki 2 bilah nada berfungsi sebagai finalis lagu.
  • Cengceng, perangkat cengceng pada terompong beruk berjumlah 9 set yang berfungsi sebagai memperkaya ritme/angsel-angsel lagu/gending.
  • Seruling, pada terompong beruk hampir sama dengan gong kebyar, yakni berfungsi sebagai pemanis lagu/gending. Jumlah seruling bersifat bebas, bisa berjumlah 3, atau bahkan 6 orang untuk memainkannya.
  • Kendang, jumlah kendang pada terompong beruk yakni sepasang baik lanang maupun wadon. Kendang berfungsi pemurba irama Selain itu, kendang juga dapat mengatur tempo lagu beserta keras lembutnya nada lagu/gending.

Dokumentasi Foto