Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem menghadiri undangan Kongres IV/HUT Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) Tahun 2018 di Kota Surakarta. Acara ini berlangsung dari tanggal 24-26 Oktober 2018. Dalam rangkaian acara tersebut, Dinas Kebudayaan yang dipimpin oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Drs. I Putu Arnawa, S.Ag., M.Si mengikuti kegiatan diantaranya : Welcome dinner di Balai Kota Surakarta dilanjutkan dengan penyerahan cendera mata dari Wali Kota Surakarta kepada Kepala Daerah Anggota JKPI (24/10). Pada waktu yang sama pula, Dinas Kebudayaan mengikuti Pentas Gelar Budaya bertempat di Benteng Vasternburg dengan menampilkan tarian garapan baru berjudul “Hasyaning Yajna” yang digarap oleh beberapa seniman muda di Kabupaten Karangasem, Rabu ,  Karya ini menggambarkan kegembiraan masyarakat Karangasem di dalam mempersembahkan sebuah sajian pertunjukan kepada leluhur atau Pemimpin Karangasem sebagai sebuah bentuk penghormatan atas warisan budayanya  dengan tetap mencerminkan toleransi tinggi, yang telah terjaga turun temurun. Karya ini merupakan sebuah perpaduan yang terinspirasi dari Kebudayaan Hindu di Kabupaten Karangasem dalam bidang tari, seni suara genjek, dan alat musik Selonding dengan Kebudayaan Islam yang berbentuk Kesenian Rudat. Karya ini ditampilkan oleh 6 orang penari, 14 penabuh dan 1 orang gerong.

Selanjutnya kegiatan simposium pada pukul 08.30 – 12.00 Wib yang dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Staf Ahli dan Kepala Dinas Pariwisata di Solo Paragon Hotel, Kamis (25/10) dilanjutkan dengan mengikuti acara Karnaval Budaya pukul 13.00 Wib yang dilepas dari Stadion Sri Widari dan berakhir di Balai Kota Surakarta.

Barisan Karnaval Kabupaten Karangasem menampilkan :

  1. Barisan Pawai perwakilan dari Kabupaten Karangasem diawali dengan dua orang pecalang dengan membawa Spanduk bertuliskan “SATU DASAWARSA KOTA PUSAKA INDONESIA TITIK TEMU RESTORASI KOTA PUSAKA INDONESIA, KARANGASEM THE SPIRIT OF BALI”
  2. Pembawa Papan Nama Kabupaten Karangasem, yang menggunakan riasan Modifikasi Karangasem dari riasan kepala hingga penggunaan pakaian tetap menggunakan kain Songket
  3. Menampilkan riasan seorang Deha Tenganan, yang berarti Gadis dari daerah Tenganan yang merupakan salah satu desa Tua di Kabupaten Karangasem yang masih kental dengan adatnya. Menggunakan riasan Deha Tenganan dengan ciri khas kain Gringsing Tenganan sebagai warisan leluhur dan hiasan kepala yang sederhana berbahan emas, pakaian ini digunakan saat ada upacara-upacara adat di daerah Tenganan.
  4. Selanjutnya menampilkan sepasang Pengantin yang menggunakan riasan yang disebut Payas Agung Karangasem. Pada jaman dahulu, Payas Agung Karangasem digunakan dalam upacara pernikahan keluarga kerajaan. Ciri khas dari Payas Agung Karangasem ada pada riasan wanita yakni bunga agak rendah dan menggunakan bunga alami seperti Cempaka dan Kenanga. Menggunakan kain songket yang menjadi ciri khas Karangasem dan selendang Bangsing, sedangkan riasan pada Laki-laki menggunakan Udeng dengan Petitis. Seiring perkembangan zaman, saat ini jenis pakaian Payas Agung Karangasem juga telah banyak digunakan dalam perkawinan masyarakat Hindu di Bali. Sepasang Pengantin ini diiringi oleh dua lelaki pembawa tedung atau payung
  5. Selanjutnya menampilkan Tradisi Gebug Ende dari daerah Seraya, Kabupaten Karangasem, Propinsi Bali yang merupakan tradisi turun temurun yang sekarang masih dilakukan. Tradisi Gebug Ende Karangasem atau dikenal juga Gebug Ende Seraya ini merupakan perang rotan dimana tradisi ini dilakoni untuk memohon turun hujan pada musim kemarau. Gebug Ende biasanya digelar pada sasih kapat (kalender Hindu Bali) atau pada bulan Oktober – November. Nama Gebug Ende sendiri memiliki arti yaitu Gebug yang artinya menggebug atau memukul lawan, Ende yang berarti perisai atau tameng. Gebug Ende dilakukan oleh dua orang laki-laki mengadu ketangkasan dengan saling serang menggunakan sebatang rotan dengan panjang 1,5 hingga 2 meter untuk memukul lawan dan perisai rotan bundar untuk menangkis serangan dari lawan.
  6. Iringan gamelan yang mengiringi Pawai ini menggunakan seperangkat gamelan Baleganjur yang berasal dari kata Bala dan Ganjur. Bala berarti pasukan atau barisan, Ganjur berarti berjalan. Jadi Balaganjur yang kemudian menjadi Baleganjur yaitu suatu pasukan atau barisan yang sedang berjalan. Gamelan Baleganjur terdiri dari berbagai instrument pukul yang memakai pencon seperti reong, kajar, kempli, kempur, dan gong dan memakai kendang. Iringan Gamelan Balaganjur ini menambah semarak penampilan barisan Pawai dari Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali.

Pada saat karnaval, para Kepala daerah anggota JKPI hadir dengan menaiki kereta kencana serta mengenakan busana kebesaran daerah masing-masing, dalam hal ini Bupati Karangasem, I Gusti Ayu Mas Sumatri hadir dengan menggunakan busana berbahan songket dan Riasan Kepala Pusung Leklek khas Karangasem.