Kabupaten Karangasem menjadi salah satu lokasi tujuan dari peserta Bali Internship Field For Subak (BIFFS) yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Gianyar dan Karangasem. Bali Internship Field School For Subak tahun 2018 merupakan sekolah lapangan internasional yang ke-4 dengan tema “Resilient of Subak System for Natural Disaster Preparedness” (Ketangguhan Subak dalam Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana) pada tanggal 2 s.d 8 September 2018.

Acara pembukaan dan seminar dilaksanakan pada tanggal 3 september 2018 di Museum Subak Gianyar, Pantai Masceti dengan menghadirkan narasumber Prof. I Wayan Windia, Naori Miyazawa, Ph.D dan Dr. I Gede Sedana. Keesokan harinya selama dua hari dari tanggal 4 s.d 5 September 2018 para peserta BIFFS yang berasal dari beberapa negara berkesempatan berkunjung ke beberapa lokasi di Kabupaten Karangasem. Pada hari pertama rute kunjungan ke Pura Besakih, diterima oleh Kepala Bidang Sejarah Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem ( I Gusti Nyoman Parnawa, S.Pd) untuk melaksanakan persembahyangan bersama sebelum melakukan kegiatan. Selanjutnya mengunjungi pura Subak yang ada di Pura Besakih, dan Subak Toya Sah di Desa Muncan yang terkena dampakĀ  banjir lahar dingin akibat erupsi Gunung Agung. Keesokan harinya tanggal 5 September 2018 peserta diajak mengunjungi daerah persawahan yang berlokasi di Desa Tebola, Kecamatan Sidemen.

Sekolah Lapangan ini berakhir pada hari sabtu, 7 September 2018 dengan agenda mempresentasikan hasil kunjungan lapangan oleh masing-masing kelompok yang sudah sebelumnya dibagi. Ketua Balai Pelestari Pusaka Indonesia (BPPI) Catrini Kebontubuh menyampaikan bahwa tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk melestarikan keberadaan Subak di Bali dan nantinya subak ini bisa menjadi salah satu kurikulum sekolah. Secara resmi BIFFS ditutup oleh Bupati Gianyar A.A. Gede Agung selaku mewakili Bupati Gianyar.